Ragam Budaya Indonesia di MISJ
Berawal
sebagai proyek kelas saat mempelajari budaya-budaya di Indonesia, seorang guru menelurkan
kegiatan ragam budaya. Setelah berlangsung beberapa tahun, kegiatan ini pun
dijadikan kegiatan sekolah, dimana setiap tingkatan kelas bertanggung jawab
memperkenalkan sebuah budaya dari sebuah daerah dan kali ini merupakan kegiatan
ragam budaya yang ke lima sejak diturunkan kepada guru setiap jenjang kelas. Kegiatan ini bertujuan untuk lebih
memperkenalkan budaya Indonesia agar para siswa di MISJ lebih mencintai
negaranya Indonesia.
Mempersembahkan
sebuah rangkaian acara dengan durasi satu sampai satu setengah jam untuk
memperkenalkan sebuah budaya dari begitu banyaknya budaya di Indonesia bukanlah
sebuah perkara yang mudah. Dimulai dengan riset budaya apa saja yang ada di
daerah itu. Dari data yang ada mulailah dipilah-pilah budaya mana saja yang
dapat diangkat kedalam bentuk atraksi di panggung, budaya mana saja yang dapat
dilakukan oleh siswa sesuai dengan jenjang usia dan kelas mereka. Tantangan
lain pun muncul, yaitu, bagaimana budaya tersebut dapat disajikan dengan
menarik sebagai suatu acara yang menyenangkan dan tak terlupakan, sehingga waktu yang sudah
diluangkan para orang tua untuk datang menyaksikan tidaklah sia-sia.
Setelah
riset dan diskusi diluncurkan, serangkaian kegiatan dan tantangan baru pun
dimulai. Latihan, latihan, dan latihan. Para guru pun memutar otak untuk
menemukan cara yang ampuh mengawinkan kegiatan belajar mengajar dengan latihan.
Tak dapat dipungkiri, latihan dan belajar dapat saling mengalahkan jika guru salah strategi. Tak mungkin siswa
hanya berlatih saja tanpa belajar materi sebuah pelajaran, karena itu merupakan
hal yang utama. Tak mungkin juga belajar tanpa latihan, karena kelak acara
tidak akan tersaji dengan cantik.
Konsep
acara, kostum, properti, desain panggung, dan berbagai macam hal-hal sehubungan
dengan sebuah pementasan selalu membayang dibenak setiap guru. Tak lupa juga
segala urusan administrasi yang juga harus dikerjakan sendiri. Bukan suatu hal
yang mudah. Untung saja kerja sama diantara para guru begitu kuat sehingga
dukungan satu sama lain menjadi penguat dan penyemangat sehingga setiap detil
masalah dan rintangan dapat terlewatkan dengan baik.
Selama
empat tahun, kelas satu menampilkan budaya Papua. Awal pemilihan Papua leih
dikarenakan siswa kelas satu masih akan terlihat lucu jika memakai busana yang
cukup “minim” dan juga seandainyamereka menari dan tidak terlihat kompak masih akan
diterima dengan baik. Setelah empat tahun berjalan dengan perbaikan pada setiap
tahunnya, di tahun kelima ini kelas satu mengusung budaya Maluku.
Meriset
budaya daerah, terutama Papua bukanlah
hal yang mudah. Mulai dari referensi tarian, lagu – lagu, tempat penyewaan
kostum, dan sejenisnya masih sangat minim informasinya. Kemampuan kami baru
pada “guru you tube”. Referensi dari You
tube yang tidak banyak itu pun harus pula dipilih agar suara yang kelak ditampilkan akan jernih. Mulailah waktu
demi waktu tersita di depan komputer yang terhubung dengan jaringan
internet. Saya, sebagai guru kelas satu,
ingin menyajikan sesuatu yang betul-betul otentik dari daerah itu. Busana,
makanan, tarian, kosa kata, dan tradisi
kecil lainnya termasuk cara bersalaman. TMII menjadi salah satu referensi juga.
Untunglah TMII hanya selemparan batu dari rumah.
Memperkenalkan
budaya, tidak lepas dari makanan khas daerah tersebut. Saya pun mulai melirik
Papeda sebagai bagian dari rangkaian acara. Pada tahun ketiga dengan modal
nekat, saya memasukkan demonstrasi memasak papeda dan mencicipinya sebagai
bagian dari kegiatan ragam budaya namun dilakukan di luar waktu pentas. Orang
tua murid yang menjadi koordinator kelas pun sangat membantu mencarikan tempat
yang menjual sagu mentah yang akan dimasak menjadi papeda. Google menjadi teman
baru.
Mengusung
moto : Coba saja. Jika kamu tidak suka, tidak mengapa, tapi setidaknya kamu
telah mencoba, para siswa mengikuti demonstrasi
nekad memasak sagu mentah menjadi papeda yang dilakukan oleh guru yang nekad pula.
Bermodalkan resep dari mbah google, kuah ikan asam pun tersaji sebagai teman
makan papeda. Ketika acara mencicipi, mulailah reaksi muncul dari setiap murid.
Euwww...... I don’t like it.... I don’t wanna try...... euwwww....... Namun
dengan mengedepankan moto tersebut, tak ada murid yang tidak mencoba. Reaksi
pun berubah....... ada yang tetap tidak suka, ada yang bisa menelan papeda, ada
yang tidak bisa menelannya, ada yang suka kuah ikan asamnya saja, ada yang suka
paduan papeda dengan kuah ikan asam..... beragam. Namun tidak ada euwwww lagi.
Ketegangan
mulai terasa sejak seminggu sebelum hari
H tiba. Muka-muka tidak lagi berkeriput, semua sudah tegang karena stress....
Senyum dan tawa mulai memudar... persiapan dan penilikan pada setiap detail
lebih gencar diperhatikan. Malam-malam tidak bisa tidur, terbangun di tengah
malam pun kerap terjadi. Pulang malam
dari sekolah sudah menjadi santapan sehari-hari. Berakrobat menghias panggung
bukan hal yang asing. Sekali lagi, syukurlah.. hal ini tidak dilakukan
sendirian. Tim Bahasa Indonesia merupakan tim yang cukup solid, tolong menolong
bahu membahu. Semuanya pun berjalan dengan lancar.
Hari H
pun tiba.... ketegangan pun meletus. Pasrah sudah tampak diwajah sang guru.
Latihan dan persiapan sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Eksekusinya kami
serahkan seutuhnya di tangan setiap murid dan tentu saja tak putus kami berdoa,
memohon ridho dari Allah. Saat satu persatu acara bergulir, ketegangan pun
mulai luruh, hingga di akhir acara. Lega sudah.......
Apa pun yang terjadi itulah yang terbaik. Tawa pun sudah terdengar berderai dari setiap bibir tim bahasa Indonesia. Penampilan setiap jenjang kelas merupakan ketegangan bersma. Bisa dibayangkan lima hari hidup dalam ketegangan yang tak putus-putus. Semua itu terbayar sudah lewat keceriaan para siswa saat tampil, kesungguhan mereka mencoba menampilkan yang terbaik, tepuk tangan para penonton, juga apresiasi dari teman-teman dan para petinggi sekolah.
Apa pun yang terjadi itulah yang terbaik. Tawa pun sudah terdengar berderai dari setiap bibir tim bahasa Indonesia. Penampilan setiap jenjang kelas merupakan ketegangan bersma. Bisa dibayangkan lima hari hidup dalam ketegangan yang tak putus-putus. Semua itu terbayar sudah lewat keceriaan para siswa saat tampil, kesungguhan mereka mencoba menampilkan yang terbaik, tepuk tangan para penonton, juga apresiasi dari teman-teman dan para petinggi sekolah.
Lalu
sudah.
Hanya
itu?
Saya
kira demikian.
Namun,
saya keliru. Ada hadiah yang lebih indah lagi.
Tahun ini, saat Maluku menyajikan papeda sebagai salah satu pengisi pameran makanan khas daerah yang biasanya dapat dicicipi setiap pengunjung dan penghuni sekolah, ada deretan murid-murid yang antri mencoba. Jika mereka mengantri hendak mencicipi ikan bakar dengan sambal kecap tentu tidak heran. Di restoran seafood akan dapat dengan mudah mereka pesan. Jika mereka mengantri pada ketupat yang dimakan dengan kohu-kohu, boleh lah sedikit bangga karena walaupun itu makanan khas daerah namun mereka sudah akrab dengan ketupat dan ikan. Mereka mengantri mencoba papeda yang dari rupanya sudah tampak asing dan hanya sedikit orang dewasa yang mencoba. Para siswa antusias mencoba papeda. Ketika kutanya salah satu dari mereka, apa mereka tahu makanan apa itu, ia pun menjawab, "Ini kan papeda Bu, dari sagu. Aku suka...."
Baru
ku tahu dan kusadari mengapa aku senang mempersiapkan acara Ragam Budaya Indonesia.





Komentar
Posting Komentar