Cinta dan Manusia
Cinta itu berwarna hitam, karena semua orang bahkan seorang tuna netra pun mengenalnya.
Aroma cinta sama seperti bau tanah, saat hujan pertama jatuh mengenai tanah setelah sekian lama tidak turun.
Cinta
terasa sangat lembut. Tak ada makhluk di dunia ini yang tidak suka akan
kelembutan. Kucing yang baru lahir pun akan segera mencari-cari
kelembutan pada bulu ibunya.
Cinta akan terasa seperti air jernih yang jika diminum akan menyegarkan tubuh.
Cinta terdengar bagai keheningan.Keheningan yang mampu menarik keluar esensi manusia terdalam.
Cinta
itu dingin. Dingin yang dikenal manusia sejak menerpanya saat keluar
dari rahim ibu sampai melingkupinya saat akan kembali kepada penciptanya
Lihatlah!
Cinta tak melulu suatu yang indah dan baik. Kelembutan, air jernih dan
bau tanah memang baik dan indah. Namun hitam dan dingin selalu
berkonotasi negatif, tak sedikit yang berusaha menghindarinya. Tapi
itulah bentuk cinta, karena cinta haruslah suatu wujud yang dikenal dan
mampu dirasa oleh semua makhluk, tak mengenal perbedaan kasta, cacat
atau normal. Lalu mengapa manusia yang dikenal sebagai makhluk
termulia, mempunyai akal dan budi, menciptakan si kaya dan si miskin,
si cantik dan si buruk rupa, si cupu dan si gaul? Lalu mengapa manusia
yang demikian mulia itu memperlakukan sesamanya berdasarkan
penggolongan yang diciptakannya sendiri? Lalu kemana cinta yang
diagungkan sebagai suatu yang mulia yang pantas dimiliki oleh makhluk
mulia?
(pertama kali diposkan di MP, tanggal 28 Agustus 2008)

Komentar
Posting Komentar