Pilar Kekafiran
Ini cuma copas aja... dari catatannya mbak
'Fulanah"......
mau dipindah catatannya buat dicatat di hati juga..............
mau dipindah catatannya buat dicatat di hati juga..............
Pilar
kekafiran ada empat: sombong, dengki, amarah, dan syahwat (keinginan jiwa).
Kesombongan menghalangi seseorang untuk tunduk. Dengki menghalanginya untuk
menerima nasihat dan memberikannya. Amarah menghalanginya untuk bersikap adil,
dan syahwat (keinginan jiwa) menghalanginya untuk konsentrasi dalam ibadah.
Apabila pilar kesombongan tumbang maka akan mudah baginya
untuk tunduk.
Apabila pilar kedengkian tumbang maka akan mudah baginya menerima nasihat atau menyampaikannya.
Apabila pilar amarah tumbang akan mudah baginya bersikap adil dan tawadhu’.
Dan apabila pilar syahwat (keinginan jiwa) tumbang maka akan mudah baginya untuk sabar, menjaga kehormatan, dan beribadah.
Apabila pilar kedengkian tumbang maka akan mudah baginya menerima nasihat atau menyampaikannya.
Apabila pilar amarah tumbang akan mudah baginya bersikap adil dan tawadhu’.
Dan apabila pilar syahwat (keinginan jiwa) tumbang maka akan mudah baginya untuk sabar, menjaga kehormatan, dan beribadah.
Dan
sungguh, bergesernya gunung dari tempatnya lebih mudah dari bergesernya empat
perkara tersebut dari orang yang terjangkitinya. Terlebih bilamana keempatnya
telah menjadi bangunan yang kokoh, karakter serta sifat yang mapan. Jika demikian
maka amalnya tidak akan tegak sama sekali selama sifat itu menyertainya, tidak
pula jiwanya akan suci selama ia menyandangnya.
Setiap
kali ia sungguh-sungguh dalam beramal maka keempatnya akan merusaknya, dan
seluruh problem itu lahir dari keempatnya. Jika yang demikian telah mapan dalam
kalbu, itu akan memperlihatkan kepadanya kebatilan dalam penampilan yang benar
dan sebaliknya kebenaran dalam penampilan kebatilan, yang baik dalam penampilan
yang mungkar dan yang mungkar dalam penampilan yang baik. Dunia pun
mendekatinya dan akhirat menjauhinya.
Apabila
engkau perhatikan kekafiran umat-umat terdahulu, engkau akan dapati bahwa itu
bermula darinya dan atas dasar itu pula azab menimpa. Ringan dan kerasnya azab
pun tergantung kepada ringan ataupun kuatnya keempat perkara tersebut. Maka
barangsiapa membuka peluang untuknya berarti ia telah membuka segala pintu
kejelekan, cepat maupun lambat. Dan barangsiapa tidak memberinya peluang untuk
dirinya berarti ia telah menutup pintu-pintu kejelekan atas dirinya. Karena
keempatnya menghambat dari keikhlasan, ketundukan, taubat, menerima kebenaran,
memberi nasihat untuk muslimin serta tawadhu’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
meskipun makhluk.
Sumber
keempatnya adalah kebodohan seseorang terhadap hakikat dirinya. Karena
sesungguhnya bila dia tahu Rabbnya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan
keagungan-Nya serta tahu tentang dirinya dengan berbagai kekurangan dan
cacatnya, tentu dia tidak akan marah demi jiwanya dan tidak akan iri kepada
seorangpun atas apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya. Karena
sejatinya dengki adalah salah satu bentuk permusuhan terhadap Allah Subhanahu
wa Ta’ala, sebab dia tidak menyukai nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada
seorang hamba padahal Allah menyukainya. Ia suka bila nikmat tersebut hilang
dari hamba itu sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala membencinya. Berarti, ia
menentang Allah Subhanahu wa Ta’ala pada qadha dan qadar-Nya serta pada
kecintaan serta kebencian-Nya. Oleh karenanya iblis adalah musuh-Nya yang
sebenar-benarnya, karena dosanya disebabkan sombong dan dengki.
Maka
mencabut dua sifat ini adalah dengan cara mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan mentauhidkan-Nya, ridha kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. Sedang mencabut
sifat amarah adalah dengan cara mengenal hakikat dirinya dan bahwasanya dirinya
tidak punya hak dibela dengan kemarahan, tidak pantas membalas dendam demi
dirinya. Karena yang demikian berarti mengutamakan jiwanya dengan rasa ridha
kepadanya, marah demi jiwanya yang mengalahkan hak pencipta-Nya.
Dan
cara yang termanjur untuk menepis cacat ini adalah dengan cara membiasakan
jiwanya marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridha karena-Nya. Sehingga
sedikit saja dari kemarahan atau ridha karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masuk
kepadanya maka ia bertindak dengannya sebagai ganti kemarahan dan keridhaan
demi jiwanya.
Adapun
syahwat (keinginan jiwa) maka obatnya adalah ilmu yang benar serta menyadari
bahwa memenuhi syahwatnya merupakan salah satu sebab terhambatnya dia dari
kesenangan jiwanya. Dan pembelaannya terhadap syahwatnya termasuk sebab
terbesar tersambungnya sebab itu dengan segala keinginan jiwanya. Sehingga
setiap kali engkau membuka pintu syahwat pada jiwamu berarti engkau sedang
berusaha menghambat jiwamu dari kesenangan jiwamu yang (hakiki). Dan setiap
kali engkau tutup pintu tersebut artinya engkau sedang mengantarkannya kepada
kesenangan jiwa dengan sesempurna-sempurnanya.
Adapun
amarah itu sesungguhnya bagaikan binatang buas. Jika sang pemilik melepaskannya
maka ia akan memakannya. Sementara syahwat itu bagaikan api, bila pemiliknya
menyalakannya maka akan membakarnya. Sombongmu itu bagaikan merebut kerajaan
dari seorang raja, bila si raja tidak membunuhmu maka dia akan mengusirmu dari
kerajaannya. Dan hasad bagaikan memusuhi orang yang lebih kuat darimu. Orang
yang bisa mengalahkan syahwat dan amarahnya maka setan akan takut walaupun dari
bayangannya. Namun barangsiapa dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya, dia akan
takut dengan khayalannya.
-
Dinukil dari Kitab Al Fawa'id karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah -
Komentar
Posting Komentar