Pepaya yang Mengajar
Aku tidak suka pepaya… huek… begitu kalimat yang kudengar.
Aku yang duduk di depannya, perlahan seolah tak percaya,
menancapkan mata padanya.
Kamu, ayo makan papaya…. Biar gak panas dalam….. begitu kata
yang kulihat keluar dari mulutnya. Kupandang berkeliling mencari lawan
bicaranya. Ooo, dia sedang membujuk putrinya untuk makan pepaya.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengernyitkan kening
sambil otakku bekerja keras tiba-tiba.
Tak kusadari keluar pertanyaan dari mulutku. Mengapa kamu tidak
suka pepaya?
Ihh, bau, Kak Rita. Lembek. Makanan burung itu….
Aku diam lagi. Kubiarkan otakku mengambil alih kesadaranku.
Ku pindahkan pandang ke luar jendela mobil agar proses kerja otakku tak
terganggu.
Bagaimana mungkin, seseorang yang secara terang-terangan
mengatakan hal yang buruk tentang pepaya di depan putrinya, bahkan mengatakan
itu makanan burung, dapat memaksakan putrinya menyantap pepaya itu.
Bagaimana mungkin, seseorang memaksa putrinya memakan
sesuatu yang menurutnya bau dan lembek.
Bagaimana mungkin, seseorang memaksa putrinya makan sesuatu
yang jelas-jelas ditolaknya.
Kuamati dengan indera pendengaranku adegan yang terjadi di
depanku. Perjuangan pepaya itu memberi nutrisi berakhir di tempat sampah,
diiringi tangis keras sang putri dengan omelan sang ibu dilatar belakangnya.
Hari itu aku belajar sesuatu yang sangat berharga.
Kupandangi anakku yang ada disebelahku, yang menikmati
pepayanya yang manis sambil sesekali
menyuapkan potongan pepaya itu ke mulutku.
Kami tersenyum bersama.
Pepaya, terima kasih.

Komentar
Posting Komentar