Podcast. Perencanaan.
Podcast Batch 4
Sessi 2
Planning Podcast
Oleh Siberkreasi.com
Popo (moderator) dan Bagas (Pemateri)
Konten
harus dipersiapkan agar bisa menjadi sesuatu dan berguna.
Bagas, 21 tahun, tinggal di Jakarta masih kuliah di Universitas Sebelas Maret jurusan sosiologi.
Ia
sangat terbuka dan mudah mengapresiasi berbagai perasaannya, bahagia, sedih, takut
dan lain-lain.
Bagas sudah menerbitkan beberapa buku, antara lain Ariel dan Andara, My talk before go to sleep dan Hello Bagas.
Sebagai podcaster, Bagas memiliki saluran di Spotify@HeloBagas Kita & Waktu dan saluran youtube Cerita Sebelum Tidur.
Kita dan
waktu bercerita tentang perasaan cinta kita yang luas kepada orang-orang yang disayangi.
Subyek
dari cerita di podcast ini adalah aku, kamu, dan mereka. Waktu menjadi saksi
bisu yang ada dalam cerita perasaan itu. Selain love, dalam Kita & Waktu,
Bagas juga bercerita tentang hidup, kehidupan.
Bab 1. Perencanaan
1. Menentukan jadwal
Jumlah penayangan perlu ditentukan, begitu
juga waktu tayangnya. Waktu tayang (hari) disesuaikan dengan tema yang akan
diangkat dan tujuan dibuatnya podcast itu.
Misal : Karena bertujuan untuk menemani
para jomblo, maka Kita & Waktu diadakan setiap Selasa dan Sabtu, malam
Minggu. Target sasarannya juga para jomblo. Selasa dipilih agar ada jeda waktu
yang cukup sebelum tayang lagi untuk brainstorming materi selanjutnya.
2.
Memilih topik dan judul yang “eye catching”
Judul sebaiknya dipilih yang mampu menarik keingintahuan
pendengar. Tidak apa adanya tetapi diciptakan dengan mendalam.
3.
Scripting dan Editing
Scrip perlu dibuat. Kita bisa membuat
script di laptop, di kertas, atau di buku. Hal pertama yang perlu dibuat
naskahnya adalah prolog. Prolog perlu permainan kata-kata yang menarik dan membuat
pendengar ingin duduk diam mendengarkan lagi, lagi, dan lagi dalam menit-menit
pertama. Ada orang yang memilih menulis di kertas atau buku agar ia dapat
mencoret-coret langsung pilihan kata atau kalimat. Ada juga yang memilih
menulis di laptop. Pilihan ini disesuaikan dengan pribadi masing-masing. Script
itu tetap diperlukan agar “on the track” dan kata-kata yang tepat dan
menarik dapat ditambahkan. Script sebaiknya ditulis lengkap (jika podcast
berjenis monolog) bukan hanya pointer saja agar rekaman berjalan lancar dan
tetap pada jalurnya. Untuk podcast jenis dialog, bisa dalam bentuk pointer.
4.
Recording
Setelah menulis beberapa script, rekamlah.
Waktu untuk merekam, bisa disesuaikan dengan keadaan kita. Ada yang suka
merekam saat sunyi, bisa memilih waktu di pagi atau dini hari. Ada yang lebih
suka merekam saat dunia sekitarnya sudah mengisi energinya, bisa merekam sesudah
sarapan atau siang hari. Penentuan waktu, disesuaikan dengan diri masing-masing.
Untuk merekam, tidak perlu memiliki alat
canggih pada awalnya. Kita bisa menggunakan perekam suara yang ada di telpon
genggam kita. Saat merekam, ada baiknya kita membayangkan kita sedang berbicara
dengan para pendengar secara langsung agar pembicaraan yang kita rekam terasa
hidup, mengalir, dalam, dan tidak perlu menjaga image.
5.
Listening dan Editing
Setelah direkam, tentu kita perlu mendengar
ulang rekaman itu/ Dengan mendengarkan Kembali, kita dapat mengetahui
kesesuaian rekaman dengan keinginan
kita. Kita bisa mengajak teman untuk mendengarkan Bersama rekaman tersebut agar
mendapat masukan yang lebih obyektif.
6. Make “Honest Answer Only”
Honest Answer Only perlu dibuat sebagai
pembukaan, yang menggiring pendengar untuk menemukan main idea dari materi
podcast tersebut, yang dapat kita sebut sebagai triger. Honest Answer Only
ditemukan setelah mendengarkan keseluruhan rekaman yang sudah kita buat.
7.
Mencatat Quotable tiap menit yang menarik.
Setiap bagian, ada quote yang tepat, yang dapat
dijadikan pilihan kata atau kalimat oleh pendengar untuk dipakai mereka, entah
dalam buku atau sosial media milik mereka. Dengan dipilihnya quote yang ada
pada tayangan podcast kita, tentu podcast kita akan semakin berkembang.
8.
Branding
Branding mencakup tone, symbol, pilihan
kata dan olahannya untuk menangkap pendengar. Branding juga menentukan isi dan
arah podcast kita.
9.
Durasi
Durasi perlu ditentukan pada awalnya agar
dapat menjaring pendengar. Menurut pengamatan Bagas, pendengar podcast paling
banyak jika durasi rekaman berlangsung dalam 10 – 20 menit. Namun hal ini
tergantung pada ‘rumusan’ materi yang ingin disampaikan. Durasi ini disesuaikan juga dengan materi yang
ingin disampaikan. Untuk durasi 10 – 20 menit, diperlukan 7 – 9 halaman script.
Durasi juga
Bab 2. Dasar
Olah Suara
Suara menjadi bagian yang penting dari sebuah podcast
sehingga perlu diperhatikan. Semakin sering merekam dan mendengar, kita tahu bagian
mana yang perlu ditingkatkan, bisa nada, bisa cara mengucapkan kata tertentu, penekanan
yang perlu diberikan pada bagian tertentu, atau bisa juga setiap menyelesaikan
sebuah kalimat.
Intonasi juga perlu diperhatikan. Intonasi disesuaikan
dengan personality dari podcast yang kita buat. Intonasi juga perlu
kejujuran atas kepribadian kita agar pendengar tidak merasa mendengar sebuah
kepalsuan. Intonasi juga dipengaruhi oleh diksi dan nada, misalnya piliha kata
dengan akhiran yang sama pada setiap kalimat atau kata.
Bab 3. Menulis untuk Telinga
Ketika kita perlu menulis untuk telinga agar kata-kata bisa
didengar dan dipahami oleh telinga. Untuk itu, kita perlu kata-kata yang
menggambarkan sesuatu dengan jelas walaupun menggunakan kiasan.
Prolog
Prolog perlu direncanakan agar dapat mengajak pendengar
lebih dekat lagi ke dalam pembahasan inti.
Materi Inti.
Materi bisa didapat dari mana saja, pengalaman pribadi, curhatan
orang lain, hasil pengamatan, atau juga berita yang dibaca. Semua informasi
yang menginspirasi tersebut diolah lagi dalam bentuk tulisan untuk dibacakan.
Informasi yang dioleh tersebut, menjadi inti dari podcast itu. Jangan lupa,
dalam setiap tulisan, masukkan quotable.
Epilog / Penutup
Merupakan bagian akhir dari sebuah episode yang berisi
penekanan dari materi disertai ucapan
terima kasih dan penutup.
Tips :
1.
Tulis hal-hal yang menarik yang ada di sekitar
kita, lalu dirinci lagi.
2.
Temukanlah sesuatu yang meresahkan atau
mengganggu perasaan atau pikiran yang tidak bisa kita biarkan begitu saja.
3.
Jujur kepada perasaan sendiri agar kita mudah
membagi dan mengeksplore perasaan itu.
4.
Be Vulnerable, menunjukkan “warna” diri sendiri
sehingga menjadi kekuatan diri kita.
5.
Gabungkanlah pengalaman masa lalu dan pesan yang
diharapkan.
6.
Posisikan juga sebagai pendengar dan mengerti
hal yang diinginkan dan kemauan mereka.
7.
Membaca berbagai referensi dari buku, novel,
atau cerita-cerita pendengar. Semakin
sering membaca, keterampilan menulis semakin berkembang.
8.
Jadilah diri sendiri adalah hal yang utama
dan terpenting dengan demikian jalan akan terbuka.








Komentar
Posting Komentar