Simbiosis Mutualisme antara aku, kertas, dan lingkungan
Belakangan ini aku punya tugas tambahan baru di sekolah.
Setiap kelas bubar, aku keliling sekolah, dari kelas ke kelas, dari ruang ke ruang, sambil bawa karung, mengumpulkan sampah kertas.
Mula-mula gak ada niat jadi pemulung di sekolah. Cukup suami aja yang jadi pemulung. Tadinya, aku kerja sama sama cleaner di sekolah buat ngumpulin kertas.
Mereka kumpulkan, jual ke aku, mereka dapat uang, aku dapat kertas (soalnya menu utama usaha Irvan ya cuma kertas). Tapi ternyata yang para cleaner kumpulkan hanya kertas yang bagus-bagus. Yang kecil-kecil tidak, lagi pula yang mengumpulkan kertas hanya beberapa cleaner, tidak semua. Masih banyak sampah kertas yang tersisa.
Aku bersemangat mengumpulkan kertas, bukan hanya karena suamiku berusaha dalam bidang sampah kertas (simbiosis mutualisme kan bagus sekali!), tapi lebih dikarenakan banyaknya sampah kertas yang ada di lingkungan dan ternyata ada juga kemampuanku untuk mencarikan jalan guna meminimalkan sampah tersebut.Mengurangi sampah kertas dan menyadarkan orang untuk meminimalkan sampah kan bagus juga buat bumi kita.
Mula-mula ada juga yang mencibirkan usahaku mengumpulkan sampah tersebut.
Banyak pula komentarnya; berapa banyak kuman yang ada di tanganmu nanti, Rita.... atau Waduh... kamu sekarang sudah seperti pemulung, kan malu di lihat orang.........
Tapi begitu melihat rupiah demi rupiah yang dikumpulkan di jumlahkan, terkesima juga mereka dan menjadi semangat.
Tujuanku lebih lanjut adalah membiasakan orang; murid, guru, orang tua, satpam, cleaner, dan staff, untuk mulai memilah-milah sampah. Pemikiranku sederhana saja. Mereka akan bersemangat jika ada uangnya kan.... nah jadilah saya mengumpulkan sampah kertas (segala jenis dan segala ukuran) dan dirupiahkan.
Rupiah yang dikumpulkan, bukan untukku sendiri. Irvan tidak mendapat kertas dengan cuma-cuma. Ia membeli dengan harga yang pantas. Uang yang terkumpul rencananya akan dijadikan dana sosial.... tapi hingga sekarang belum diputuskan bagaimana pelaksanaannya.
Ya... sesuai dengan semboyan dari kita untuk kita oleh Rita lah.......
Selain di sekolah, saya juga mulai melirik tetangga, teman-teman, bahkan tempat warnet saya biasa nongkrong. Saya adakan penawaran. Saya ajarkan mereka untuk mengelola sampah mereka.
Untuk mereka, perhatian saya lebih kepada sampah kertas yang tidak dilirik oleh orang lain (pemulung lain) karena harganya murah. Tapi, karena perhatian lebih kepada lingkungan, saya senang melakukannya. Yang penting sampah di penampungan sampah berkurang, dan bumi yang sudah tua ini tidak menjadi lebih sesak.
Tapi ada juga lo, tetangga saya, beliau seorang kepala sekolah (di kampung dikenal cukup dermawan dan kaya).Kepadanya saya tawarkan kegiatan pengumpulan kertas seperti yang berlangsung di sekolah saya. Jawabannya..... waduh gak usah deh..... malu nanti... GUBRAK!!!!
Ketika saya ceritakan lebih lanjut kegiatan yang berlangsung di sekolah saya, beliau menambahkan bahwa sampah kertasnya dibakar, abunya dijadikan pupuk.....
Walah.... bukannya pembakaran itu juga yang meningkatkan efek rumah kaca pada bumi kita?!
Ibu......Ibu..... demi bumi kok gengsi dipertahankan....
Walah.. walah...
Demi bumi, mulut dan tangan saya tidak akan berhenti mengumpulkan sampah kertas dan mengajak orang untuk mengelola sampahnya juga.
Ikutan?!!! Yuk!
Late post tahun 2008
Setiap kelas bubar, aku keliling sekolah, dari kelas ke kelas, dari ruang ke ruang, sambil bawa karung, mengumpulkan sampah kertas.
Mula-mula gak ada niat jadi pemulung di sekolah. Cukup suami aja yang jadi pemulung. Tadinya, aku kerja sama sama cleaner di sekolah buat ngumpulin kertas.
Mereka kumpulkan, jual ke aku, mereka dapat uang, aku dapat kertas (soalnya menu utama usaha Irvan ya cuma kertas). Tapi ternyata yang para cleaner kumpulkan hanya kertas yang bagus-bagus. Yang kecil-kecil tidak, lagi pula yang mengumpulkan kertas hanya beberapa cleaner, tidak semua. Masih banyak sampah kertas yang tersisa.
Aku bersemangat mengumpulkan kertas, bukan hanya karena suamiku berusaha dalam bidang sampah kertas (simbiosis mutualisme kan bagus sekali!), tapi lebih dikarenakan banyaknya sampah kertas yang ada di lingkungan dan ternyata ada juga kemampuanku untuk mencarikan jalan guna meminimalkan sampah tersebut.Mengurangi sampah kertas dan menyadarkan orang untuk meminimalkan sampah kan bagus juga buat bumi kita.
Mula-mula ada juga yang mencibirkan usahaku mengumpulkan sampah tersebut.
Banyak pula komentarnya; berapa banyak kuman yang ada di tanganmu nanti, Rita.... atau Waduh... kamu sekarang sudah seperti pemulung, kan malu di lihat orang.........
Tapi begitu melihat rupiah demi rupiah yang dikumpulkan di jumlahkan, terkesima juga mereka dan menjadi semangat.
Tujuanku lebih lanjut adalah membiasakan orang; murid, guru, orang tua, satpam, cleaner, dan staff, untuk mulai memilah-milah sampah. Pemikiranku sederhana saja. Mereka akan bersemangat jika ada uangnya kan.... nah jadilah saya mengumpulkan sampah kertas (segala jenis dan segala ukuran) dan dirupiahkan.
Rupiah yang dikumpulkan, bukan untukku sendiri. Irvan tidak mendapat kertas dengan cuma-cuma. Ia membeli dengan harga yang pantas. Uang yang terkumpul rencananya akan dijadikan dana sosial.... tapi hingga sekarang belum diputuskan bagaimana pelaksanaannya.
Ya... sesuai dengan semboyan dari kita untuk kita oleh Rita lah.......
Selain di sekolah, saya juga mulai melirik tetangga, teman-teman, bahkan tempat warnet saya biasa nongkrong. Saya adakan penawaran. Saya ajarkan mereka untuk mengelola sampah mereka.
Untuk mereka, perhatian saya lebih kepada sampah kertas yang tidak dilirik oleh orang lain (pemulung lain) karena harganya murah. Tapi, karena perhatian lebih kepada lingkungan, saya senang melakukannya. Yang penting sampah di penampungan sampah berkurang, dan bumi yang sudah tua ini tidak menjadi lebih sesak.
Tapi ada juga lo, tetangga saya, beliau seorang kepala sekolah (di kampung dikenal cukup dermawan dan kaya).Kepadanya saya tawarkan kegiatan pengumpulan kertas seperti yang berlangsung di sekolah saya. Jawabannya..... waduh gak usah deh..... malu nanti... GUBRAK!!!!
Ketika saya ceritakan lebih lanjut kegiatan yang berlangsung di sekolah saya, beliau menambahkan bahwa sampah kertasnya dibakar, abunya dijadikan pupuk.....
Walah.... bukannya pembakaran itu juga yang meningkatkan efek rumah kaca pada bumi kita?!
Ibu......Ibu..... demi bumi kok gengsi dipertahankan....
Walah.. walah...
Demi bumi, mulut dan tangan saya tidak akan berhenti mengumpulkan sampah kertas dan mengajak orang untuk mengelola sampahnya juga.
Ikutan?!!! Yuk!
Late post tahun 2008
Komentar
Posting Komentar