Panas, Aku, dan Dia
Hari ini rasanya ada yang aneh dalam
pikiran g.
Entah mengapa ingin rasanya meninggalkan jejak2 hidup.
Mana tahu suatu
saat akan berguna, terlebih hidup yang diberikan Tuhan kepada saya sangatlah
indah. Terlebih ada Irvan yang memberi banyak inspirasi.
Hari ini cuaca memang panas sekali.
Rumah 35a memang menyimpan panasnya di dalam.
Semua kipas angin yang ada sangat
tidak membantu. Irvan uring-uringan sedari tadi. G melihatnya sebagai seorang
anak yang harus dimengerti dan disayang-sayang. Tapi itu pun tidak membantu. G
sendiri merasa panas sekali, mana lagi haid, tidak enak sekali. Tapi melihat
Irvan begitu, kok saya tidak merasa sepanas seharusnya. Saya berpikir, jika
hati kita dingin, panas di luar tidak akan terlalu mempengaruhi keadaan diri
kita. Mungkin ini rasa syukur atas rejeki yang diberikan Allah. Panas kan juga
rejeki…..
Buktinya, sorenya cuaca mendung, panas
agak terusir. Cuma, memang gimana caranya supaya rasa syukur itu bisa ada terus
di dalam hati.
Komentar
Posting Komentar