Bicara : Turunan dan Sejenisnya



Dari beberapa yang tersisa dari reuni adalah kata bicara.
...Sejak di Antiokhia saya jadi lebih bisa bicara..
...Sejak ikut Antiokhia saya dapet nilai A lo skripsinya soalnya jadi bisa ngatur waktu bicara
...Sejak aktif di Antiokhia, jurusan saya jadi pindah dari hotel ke travel, yang perlu banget bicara,
   padahal saya gak bisa bicara sebelumnya.

Kira-kira gitu deh......
Saya punya tahi lalat di atas bibir (bukan tompel lo. Soalnya kalo tompel kesannya Guede banget...)
kata orang, siapa yang punya tahi lalat sekitara bibir biasanya bawel atau cerewet ,
Tapi saya tidak tuh...
Saya tidak suka bicara. Saya hanya suka banyak berpikir dan mengungkapkan pemikiran tersebut. Masalahnya, jeda waktu berpikir dengan penyampaian kadang2 pendek. Akan menjadi seringkali kalau sedang berkumpul dengan teman-teman.
hehehe... sama aja sama bawel dan cerewet.

Ternyata bicara bukan melulu suatu yang alami. Harus dipelajari. Makanya di dalam kurikulum Bahasa Indonesia, ada kompetensi dalam aspek berbicaranya..
Bicara yang dipelajari tentu saja bukan bicara asal buka mulut dan keluar kata-kata, namun bicara yang kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarnya sekaligus tidak memerahkan telinga.

Dulu, ada seorang ibu2 yang dalam persiapan bercerai dan kebetulan anaknya berproblem di sekolah, mengatakan :
.......kata orang saya harus belajar berkomunikasi (baca: berbicara supaya sama dengan tema) dengan suami saya. Apa nya yang dipelajari? kan dari kecil juga kita sudah bisa berbicara.....
Salah besar tuh bu....
Ini contohnya :

Suatu hari ada teman didatangi temannya yang akan meminta sumbangan untuk temannya lagi yang sedang kesusahan. (hehehe.. ngerti gak?)
Dia memberikan sumbangan tapi dengan mengucapkan (baca: berbicara) kata-kata yang tajam sekali.
Uihhh andai di dengar oleh orang yang kesusahan itu, sembilu aja kalah tajam....
Usul saya pada waktu dia meminta pendapat saya tentang peristiwa itu, saya sih cuma bilang : .... soal duit itu soal sensitif. Kalo mau nyumbang, jangan ngomong apa-apa. Kalo mau ngomong apa-apa lebih baik gak usah nyumbang....

Yup... hal sensitif itu tidak sama untuk setiap orang. Jadi bicara pun tidak bisa sama ke semua orang.

Salah satu turunan kata bicara adalah : Membicarakan dan dibicarakan.
untuk urusan ini, wuih.... agak luas. Banyak hal yang dapat dibicarakan. dari kegiatan selama tidur (mimpi) sampai kegiatan waktu sadar-sesadar-sadarnya.

Ada satu hal yang erat hubungannya dengan ini, yang saya dapat waktu ikut pengajian Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas di Mesjid Pondok Indah.
Waktu itu dia bilang, manusia suka sekali makan bangkai saudaranya. Sedangkan bangkai hewan saja harus kita hindari, eh... ini malah makan bangkai saudaranya.
(arti makan bangkai saudara: suka membicarakan sesama manusia)
wuih.. rasanya dalemmm banget, mana itu salah satu hobby (ups!!).

Satu turunan terakhir dari saya adalah : pembicara
Kata ini sering membuat saya panas dingin, karena terus terang saya tidak bisa menjadi pembicara yang handal untuk orang banyakl. Saya lebih senang menulis saja atau ngobrol.
Tapi sebagai seorang guru, mau tidak mau saya sering menjadi pembicara.
Yang jelas, salah satu pembicara di kelas adalah saya, pembicara kedua tentu saja murid-murid.
Kalau sedang ada open house, saya terpaksa jadi pembicara untuk kelas saya tentunya. Saat itu, saya selalu berusaha menjadi pembicara yang "benar-benar Pembicara/ Guru"
Tapi, selalu saja gagal. Apapun usaha saya, saya tetap menjadi pembicara yang "Rita Helianty".
Pernah ada seorang ibu yang menurut saya sifatnya sangat kaku (kata orang2 juga begitu). Dia membicarakan tentang ketidak senangannya terhadap pembicara si Rita Helianty ini. Sayangnya dia tidak membicarakannya langsung kepada saya sehingga sempat bikin luka batin lo . Hingga sekarang.............
Sejak saat itu, setiap saya nervous, saya ungkapakan saja di depan audience.
..... Bapak Ibu, maaf kalau cara saya berbicara tidak berkenan di hati Bapak dan Ibu, Karena terus terang, saya selalu nervous jika harus bicara di depan orang lain..........
Nah, dengan demikian, tugas saya untuk menyayangi diri  saya (dengan menerima kelemahannya) sudah selesai. Sekarang tugas mereka untuk menyayangi saya dengan menyamakan frekuensi mereka dengan saya.

Ternyata beban saya sebagai pembicara tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang rutin.
Papa saya akan bangga sekali kalau saya bisa jadi pembicara/ MC di depan tamu-tamu, kalau acara misalnya..dan selalu menyodor-nyodorkan diri saya. Untung tidak pernah berhasil.
Maaf deh Pa, untuk yang ini saya gak bisa penuhin.

Nanti, November ini, Director of my school sudah panjer saya untuk membawakan satu sessi tentang tema yang belum lagi ditetapkan dalam rangka professional development.
Aduh Biyung... ini baru bulan Agustus, tapi kok sudah bikin penderitaan yang begitu panjang sih...

Mau gak Mau,,,,,
menjadi guru adalah pilihan sadar
mau gak mau...
bicara menjadi tugasnya
mau gak mau...
november datang,
walau gak mau, tetep harus mau...........
aduh................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Budaya Indonesia di MISJ

Langit itu berbicara, Abi......

Oooo, Kamau ketahuan